Bidadari
Tersenyum dari hati
Dengan binar mata yang berpendar
Menekuk lutut
Bidadari
Ringan sudah tanganmu
Dengan binar mata tanpa syarat
Menjinjing beban
Bidadari
Dalam termangu
Aku melihat bayanganmu
Berlutut dan bersujud
Ara, 140409
Kepada sosok nyata bidadari
Selasa, 18 Agustus 2009
Rabu, 18 Februari 2009
PERNYATAAN CINTA
Saat ini aku sedang jatuh cinta
Benar-benar jatuh cinta.
Jatuh cinta setiap hari.
Sekali lagi kutegaskan dari lubuk hati
Aku benar-benar jatuh cinta,kawan
Cintaku begitu besar
Namun terbagi
Bukankah tiap hati mempunyai banyak ruang
Di mana kita bisa menempatkan banyak cinta
Dan diantara cinta tak saling bersinggungan
Malah saling melengkapi dan menguatkan
Aku jatuh cinta 5 kali sehari pada Tuhanku
Melaui penghambaan
Melalui kerendahan
Ada harap dan ketakutan
Aku jatuh cinta kepadamu, duhai kekasihNya
Melalui salawat
Melalui hadistmu
Melalui sirohmu
Aku jatuh cinta kepada mu ya Ummi
Yang pertama kusakiti
Yang cintanya tak pernah habis padaku
Yang pelukannya menghangatkan hatiku
Aku mencintaimu ya Abi
Yang selalu mendoakanku
Yang sabar kan segala kesalku
Yang selalu menjadi idolaku
Aku pun mencintaimu ya adik-adikku
Segala penghibur lelahku
Penyemangatku
Yang dari kalian aku belajar kedewasaan
Dan tak terlupa
Aku mencintai kalian semua saudaraku
Dalam ikatan ukhuwah, doa-doa, dan matsurat kita
Sungguh tanpa kalian ku tak tahu menapaki jalan ini
Sungguh tanpa kalian mungkin aku tak disini
Maafku utk semua yang tercinta
Jika aku tak mampu membagi cinta dengan adilnya
Sebab terkadang nafsu membuyarkan segala prioritas cinta
Dan baru kusadari saat ini
Cinta tak kan pernah habis utk dibagi
Cintaku, cintamu, cintanya
Tak perlu mengambil dari orang lain
Sebab cintaku sudah lebih dari cukup utk dibagi
Ara, 140209
Tak perlu merayakan valentine
Kalau bisa jatuh cinta setiap hari
Benar-benar jatuh cinta.
Jatuh cinta setiap hari.
Sekali lagi kutegaskan dari lubuk hati
Aku benar-benar jatuh cinta,kawan
Cintaku begitu besar
Namun terbagi
Bukankah tiap hati mempunyai banyak ruang
Di mana kita bisa menempatkan banyak cinta
Dan diantara cinta tak saling bersinggungan
Malah saling melengkapi dan menguatkan
Aku jatuh cinta 5 kali sehari pada Tuhanku
Melaui penghambaan
Melalui kerendahan
Ada harap dan ketakutan
Aku jatuh cinta kepadamu, duhai kekasihNya
Melalui salawat
Melalui hadistmu
Melalui sirohmu
Aku jatuh cinta kepada mu ya Ummi
Yang pertama kusakiti
Yang cintanya tak pernah habis padaku
Yang pelukannya menghangatkan hatiku
Aku mencintaimu ya Abi
Yang selalu mendoakanku
Yang sabar kan segala kesalku
Yang selalu menjadi idolaku
Aku pun mencintaimu ya adik-adikku
Segala penghibur lelahku
Penyemangatku
Yang dari kalian aku belajar kedewasaan
Dan tak terlupa
Aku mencintai kalian semua saudaraku
Dalam ikatan ukhuwah, doa-doa, dan matsurat kita
Sungguh tanpa kalian ku tak tahu menapaki jalan ini
Sungguh tanpa kalian mungkin aku tak disini
Maafku utk semua yang tercinta
Jika aku tak mampu membagi cinta dengan adilnya
Sebab terkadang nafsu membuyarkan segala prioritas cinta
Dan baru kusadari saat ini
Cinta tak kan pernah habis utk dibagi
Cintaku, cintamu, cintanya
Tak perlu mengambil dari orang lain
Sebab cintaku sudah lebih dari cukup utk dibagi
Ara, 140209
Tak perlu merayakan valentine
Kalau bisa jatuh cinta setiap hari
Sabtu, 14 Februari 2009
Berdamai Dengan Perasaan
Izinkan aku berdamai dengan kata kalau
Atau pun jika saja
Dan izinkan aku berteman dengan kata nanti
Atau lalu bagaimana
Maka aku tak akan pernah menyesal
Sebab tunda menjadi tiada
Sebab gundah menjadi biasa
Ara, 080209
Berdamai selalu bukan menghindar
Atau pun jika saja
Dan izinkan aku berteman dengan kata nanti
Atau lalu bagaimana
Maka aku tak akan pernah menyesal
Sebab tunda menjadi tiada
Sebab gundah menjadi biasa
Ara, 080209
Berdamai selalu bukan menghindar
Jumat, 23 Januari 2009
SAAT INI
Saat menyapa
Duka yang enggan beranjak darimu, kawan
Hanya sekedar penguat, aku
Saat memeluk
Ujian yang menghampirimu, teman
Hanya teguh ada untukmu
Saat menjumpa
Lara yang mendekapmu erat
Ada paket tawa dariku
Saat ini…
Dukamu tak terbagi, memang
Namun
Izinkan aku menjumpaimu dalam tawa yang menghapus lara
Ujianmu tak terganti, memang
Namun
Bolehkah aku menengokmu dalam empati yang mencipta sabar
Saat ini
Tegarlah dan tersenyumlah
Ara, 130109
Untuk sahabat yang mengajarkan tegar
Untuk sahabat yang mengajarkan sabar
Tetap tersenyum & jangan berubah
Duka yang enggan beranjak darimu, kawan
Hanya sekedar penguat, aku
Saat memeluk
Ujian yang menghampirimu, teman
Hanya teguh ada untukmu
Saat menjumpa
Lara yang mendekapmu erat
Ada paket tawa dariku
Saat ini…
Dukamu tak terbagi, memang
Namun
Izinkan aku menjumpaimu dalam tawa yang menghapus lara
Ujianmu tak terganti, memang
Namun
Bolehkah aku menengokmu dalam empati yang mencipta sabar
Saat ini
Tegarlah dan tersenyumlah
Ara, 130109
Untuk sahabat yang mengajarkan tegar
Untuk sahabat yang mengajarkan sabar
Tetap tersenyum & jangan berubah
Senin, 22 Desember 2008
ORANG BAIK
Nak, sekarang susah mencari orang baik di Indonesia
Masyarakat mau menang sendiri
Dalam bis kota saat ibu hamil ataupun orang tua macam kakek berdiri
Tidak ada yang serentak memberikan tempat duduk
Dalam hati berkata, sudah tahu penuh ngapain naik?
Nak, orang baik di Indonesia bisa dihitung jari
Apalagi orang jujur
Lihat saja ayahmu, lebih sering dimutasi
Dengan alas an tidak bisa bekerja sama
Bekerjasama yang bagaimana?
Nak, langkanya orang baik di Indonesia
Lebih banyak manusia serigala
Kriminalitas meningkat
Perkosaan, pembunuhan, pencurian ada setiap hari
Kakek khawatir melepasmu berjalan sendiri
Maka waspadalah jangan gampang percaya
Nak, Indonesia mengalami potret suram
Tengok saja remajanya yang pecandu narkoba
Aborsi, seks bebas
Matrealistis sampai prostitusi makin berkembang
Nak, keramahan bangsa Indonesia menjadi barang mahal
Penyelesaian masalah lebih sering memakai kekerasan
Lucunya tawuran tidak dimonopoli lagi pelajar SMP atau SMA
Bahkan mahasiswa, politik, sampai artris juga melakukannya
Nak, Indonesia tidak seperti dulu
Indonesia kita…
Indonesia semua
Tenang saja, kakek
Walaupun orang baik bagaikan mutiara
Cucu optimis masih banyak orang baik yang bagai cahaya
Pemain belakang layar yang tidak tampak media
Tapi ia ada di sekitar kita
Orang jujur, ramah dan adil
Makanya Tuhan masih sayang Indonesia
Hanya sedikit menegurnya
Bukan mengazabnya
Dan doakan cucumu menjadi salah satu orang baik
Di tengah muara orang baik lainnya
Hingga akhirnya potret suram Indonesia berganti kejayaan
Ara 161208
Belajar menjadi orang baik
Masyarakat mau menang sendiri
Dalam bis kota saat ibu hamil ataupun orang tua macam kakek berdiri
Tidak ada yang serentak memberikan tempat duduk
Dalam hati berkata, sudah tahu penuh ngapain naik?
Nak, orang baik di Indonesia bisa dihitung jari
Apalagi orang jujur
Lihat saja ayahmu, lebih sering dimutasi
Dengan alas an tidak bisa bekerja sama
Bekerjasama yang bagaimana?
Nak, langkanya orang baik di Indonesia
Lebih banyak manusia serigala
Kriminalitas meningkat
Perkosaan, pembunuhan, pencurian ada setiap hari
Kakek khawatir melepasmu berjalan sendiri
Maka waspadalah jangan gampang percaya
Nak, Indonesia mengalami potret suram
Tengok saja remajanya yang pecandu narkoba
Aborsi, seks bebas
Matrealistis sampai prostitusi makin berkembang
Nak, keramahan bangsa Indonesia menjadi barang mahal
Penyelesaian masalah lebih sering memakai kekerasan
Lucunya tawuran tidak dimonopoli lagi pelajar SMP atau SMA
Bahkan mahasiswa, politik, sampai artris juga melakukannya
Nak, Indonesia tidak seperti dulu
Indonesia kita…
Indonesia semua
Tenang saja, kakek
Walaupun orang baik bagaikan mutiara
Cucu optimis masih banyak orang baik yang bagai cahaya
Pemain belakang layar yang tidak tampak media
Tapi ia ada di sekitar kita
Orang jujur, ramah dan adil
Makanya Tuhan masih sayang Indonesia
Hanya sedikit menegurnya
Bukan mengazabnya
Dan doakan cucumu menjadi salah satu orang baik
Di tengah muara orang baik lainnya
Hingga akhirnya potret suram Indonesia berganti kejayaan
Ara 161208
Belajar menjadi orang baik
Senin, 15 Desember 2008
UNTUNGNYA HIDUP BUKAN MONOPOLI
Bukan Puisi (Opini)
Pernah main monopoli? Dalam permainan monopoli, seorang pemain mengandalkan 90% keberuntungan 10% strategi. Menggantungkan langkah pada kocokan dadu. Yang paling banyak kompleks, uang, dialah sang penguasa. Berhak memonopoli. Tak menyisakan atau menyisakan sedikit saja untuk golongan minoritas yang tak elak makin tertindas. Makin kere. Dan berakhir bangkrut.
Kadang bila keberuntungan tak memihak, rumah ataupun hotel yang dibangun menjadi sia-sia. Tak pernah disinggahi pemain lain. Sekali lagi, semua berorientasi uang. Keuangan yang maha kuasa.
Untungnya hidup bukan monopoli. Tak pernah ada kesia-siaan dalam hidup. Bahkan seekor lalat yang kita lihat tak berguna ternyata mampu mengajarkan arti kebersihan bagi manusia. Nilai akhir memang penting tapi proses tetap tidak dipandang sebelah mata. Semua proses dicatat oleh Yang Maha Kuasa. Bukan Uang tapi Tuhan Pencipta Pembuat Uang itu sendiri.
Untungnya hidup bukan monopoli. Kompetisi tidak membuat kita bangkrut tapi mengajarkan arti kemandirian dan sabar. Mengajarkan arti tolong menolong antara kaya dan miskin. Mengajarkan kita untuk melihat ada hak dhuafa dalam tiap rupiah milik kita. Mengajarkan bahwa harta adalah amanah, titipan yang gampang sekali lenyap.
Ini hidupku. Hidup ideal bagiku. Sementara saat ini hidup hampir seperti monopoli. Maka teriakku kembalikan hidup seperti saat bukan permainan monopoli. Jawabannya satu kembalikan esensi ruh beragamis bukan sekulerisme.
Ara151208
Saat asyik main monopoli
Pernah main monopoli? Dalam permainan monopoli, seorang pemain mengandalkan 90% keberuntungan 10% strategi. Menggantungkan langkah pada kocokan dadu. Yang paling banyak kompleks, uang, dialah sang penguasa. Berhak memonopoli. Tak menyisakan atau menyisakan sedikit saja untuk golongan minoritas yang tak elak makin tertindas. Makin kere. Dan berakhir bangkrut.
Kadang bila keberuntungan tak memihak, rumah ataupun hotel yang dibangun menjadi sia-sia. Tak pernah disinggahi pemain lain. Sekali lagi, semua berorientasi uang. Keuangan yang maha kuasa.
Untungnya hidup bukan monopoli. Tak pernah ada kesia-siaan dalam hidup. Bahkan seekor lalat yang kita lihat tak berguna ternyata mampu mengajarkan arti kebersihan bagi manusia. Nilai akhir memang penting tapi proses tetap tidak dipandang sebelah mata. Semua proses dicatat oleh Yang Maha Kuasa. Bukan Uang tapi Tuhan Pencipta Pembuat Uang itu sendiri.
Untungnya hidup bukan monopoli. Kompetisi tidak membuat kita bangkrut tapi mengajarkan arti kemandirian dan sabar. Mengajarkan arti tolong menolong antara kaya dan miskin. Mengajarkan kita untuk melihat ada hak dhuafa dalam tiap rupiah milik kita. Mengajarkan bahwa harta adalah amanah, titipan yang gampang sekali lenyap.
Ini hidupku. Hidup ideal bagiku. Sementara saat ini hidup hampir seperti monopoli. Maka teriakku kembalikan hidup seperti saat bukan permainan monopoli. Jawabannya satu kembalikan esensi ruh beragamis bukan sekulerisme.
Ara151208
Saat asyik main monopoli
WISATA HATI
Tak disadari tiap hari kita berwisata hati
Setiap perjalanan adalah wisata hati,
Tiap perjalanan adalah kesempatan untuk bersyukur
Tiap perjalanan adalah ibrah
Tiap perjalanan adalah pemberi kesempatan
Dan tiap perjalanan adalah pelunak hati
Perhatikanlah tiap orang di sekitarmu saat berjalan
Akan ada banyak kesyukuran yang kita dapat
Maka mengapa kita terus bersedih?
Setiap perjalanan adalah wisata hati,
Tiap perjalanan adalah kesempatan untuk bersyukur
Tiap perjalanan adalah ibrah
Tiap perjalanan adalah pemberi kesempatan
Dan tiap perjalanan adalah pelunak hati
Perhatikanlah tiap orang di sekitarmu saat berjalan
Akan ada banyak kesyukuran yang kita dapat
Maka mengapa kita terus bersedih?
LIMA ALASAN MENGAPA KITA TERSENYUM
Bukan Puisi (opini)
“Menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga…Cinta kepada hidup memberikan senyuman abadi…”
Begitulah sepenggal lirik laskar pelangi. Lagu yang mengajarkan bagaimana kita meraih mimpi. Mengajarkan tetap tersenyum.
Mengapa kita tersenyum?
1. Senyum ibadah
Dalam Islam seyum merupakan ibadah yang paling mudah, mendatangkan pahala tanpa mengeluarkan biaya hanya sedikit kemauan saja.
2. Tersenyum jauh lebih ‘mudah’ dari merengut
Sebab saat terseyum lebih sedikit otot yang kita kontraksikan dibandingkan saat cemberut. Kita hanya mengkontraksikan m.zygomatokus mayor dan m.orbicularis oculi. Lebih efisien dan lebih sedikit ATP yang terpakai, begitu ahli anatomi dan faal berkata.
3. Dengan tersenyum kita akan menjadi lebih bahagia
Izinkan aku mengutip sepenggal syair Elia Abu Madhi
Orang berkata, “Langit selalu berduka dan mendung.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, cukuplah duka cita dilangit sana.”
Orang berkata, “Masa muda telah berlalu dariku.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda tidak kan pernah mengembalikannya.”
Orang berkata, “Langitku yang ada di dalam jiwa telah membuatku merana dan berduka. Janji-janji telah menghianatiku ketika kalbu telah menguasainya. Bagaimana mungkin jiwaku sanggup mengembangkan senyum manisnya.”
Maka akupun berkata, “Tersenyumlah dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis merasakan sakitnya.”
Orang berkata, ”Perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan. Ia laksana musafir yang akan mati karena terserang rasa haus.”
Tapi aku berkata, “Tetaplah tersenyum, karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu. Cukuplah engkau tersenyum, karena mungkin hausmu akan sembuh dengan sendirinya. Maka mengapa engkau harus bersedih dengan dosa dan kesalahan orang lain, apalagi sampai engkau seolah-olah yang melakukan dosa dan kesalahan itu?”
Orang berkata, “Malam memberiku minuman ‘alqamah.”
Tersenyumlah, walaupun engkau makan buah ‘alqamah. Mungkin saja orang lain yang melihatmu berdendang akan membuang semua kesedihan. Berdendanglah !
Apa kau kira dengan cemberut akan memperoleh dirham atau kau merugi karena menampakkan wajah berseri?
Saudaraku, tak membahayakan bibirmu jika engkau tersenyum juga tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri.
Tertawalah sebab meteor-meteor juga tertawa, mendung tertawa, karenanya kami mencintai bintang-bintang.
Orang berkata, “Wajah berseri tidak akan membuat dunia bahagia, yang datang kedunia dan pergi dengan gumpalan amarah.
Ku katakan, “ Tersenyumlah selama antara kau dan kematian ada jarak sejengkal, setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum.”
4. Memang benar tersenyum tidak menghilangkan duka kawan tapi bukankah kesedihan lebih tidak menghapuskan duka.
Ibarat hukum aksi dan reaksi, reaksinya sama masih ada masalah, tinggal aksi apa yang kita pilih tersenyum atau merengut?
5. Memikirkan secara filosofis ternyata…
Kesenangan berdasar kesedihan, tak mungkin merasakannya jikalau tiada perbedaan suka duka, maka alangkah sedihnya jika tiada kesedihan didunia ini.
Siap untuk tersenyum?
Kawan, berbahagialah sekarang!! Bukan esok hari.
Dan jangan menunggu bahagia untuk tersenyum, tetapi tersenyumlah untuk bahagia
Ada alasan lain?
Ara 141208
sedang tersenyum
“Menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga…Cinta kepada hidup memberikan senyuman abadi…”
Begitulah sepenggal lirik laskar pelangi. Lagu yang mengajarkan bagaimana kita meraih mimpi. Mengajarkan tetap tersenyum.
Mengapa kita tersenyum?
1. Senyum ibadah
Dalam Islam seyum merupakan ibadah yang paling mudah, mendatangkan pahala tanpa mengeluarkan biaya hanya sedikit kemauan saja.
2. Tersenyum jauh lebih ‘mudah’ dari merengut
Sebab saat terseyum lebih sedikit otot yang kita kontraksikan dibandingkan saat cemberut. Kita hanya mengkontraksikan m.zygomatokus mayor dan m.orbicularis oculi. Lebih efisien dan lebih sedikit ATP yang terpakai, begitu ahli anatomi dan faal berkata.
3. Dengan tersenyum kita akan menjadi lebih bahagia
Izinkan aku mengutip sepenggal syair Elia Abu Madhi
Orang berkata, “Langit selalu berduka dan mendung.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, cukuplah duka cita dilangit sana.”
Orang berkata, “Masa muda telah berlalu dariku.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda tidak kan pernah mengembalikannya.”
Orang berkata, “Langitku yang ada di dalam jiwa telah membuatku merana dan berduka. Janji-janji telah menghianatiku ketika kalbu telah menguasainya. Bagaimana mungkin jiwaku sanggup mengembangkan senyum manisnya.”
Maka akupun berkata, “Tersenyumlah dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis merasakan sakitnya.”
Orang berkata, ”Perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan. Ia laksana musafir yang akan mati karena terserang rasa haus.”
Tapi aku berkata, “Tetaplah tersenyum, karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu. Cukuplah engkau tersenyum, karena mungkin hausmu akan sembuh dengan sendirinya. Maka mengapa engkau harus bersedih dengan dosa dan kesalahan orang lain, apalagi sampai engkau seolah-olah yang melakukan dosa dan kesalahan itu?”
Orang berkata, “Malam memberiku minuman ‘alqamah.”
Tersenyumlah, walaupun engkau makan buah ‘alqamah. Mungkin saja orang lain yang melihatmu berdendang akan membuang semua kesedihan. Berdendanglah !
Apa kau kira dengan cemberut akan memperoleh dirham atau kau merugi karena menampakkan wajah berseri?
Saudaraku, tak membahayakan bibirmu jika engkau tersenyum juga tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri.
Tertawalah sebab meteor-meteor juga tertawa, mendung tertawa, karenanya kami mencintai bintang-bintang.
Orang berkata, “Wajah berseri tidak akan membuat dunia bahagia, yang datang kedunia dan pergi dengan gumpalan amarah.
Ku katakan, “ Tersenyumlah selama antara kau dan kematian ada jarak sejengkal, setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum.”
4. Memang benar tersenyum tidak menghilangkan duka kawan tapi bukankah kesedihan lebih tidak menghapuskan duka.
Ibarat hukum aksi dan reaksi, reaksinya sama masih ada masalah, tinggal aksi apa yang kita pilih tersenyum atau merengut?
5. Memikirkan secara filosofis ternyata…
Kesenangan berdasar kesedihan, tak mungkin merasakannya jikalau tiada perbedaan suka duka, maka alangkah sedihnya jika tiada kesedihan didunia ini.
Siap untuk tersenyum?
Kawan, berbahagialah sekarang!! Bukan esok hari.
Dan jangan menunggu bahagia untuk tersenyum, tetapi tersenyumlah untuk bahagia
Ada alasan lain?
Ara 141208
sedang tersenyum
Kamis, 04 Desember 2008
BAHAGIA
Apa bahagia?
Pertanyaan yang kuajukan pada ayah
Saat baru pulang kerja
Ia tersenyum dan menjawab
Sungguh… bahagia itu sederhana, Nak.
Esoknya,
Saat berpapasan dengan seorang bapak pemanggul kayu
Kutanyakan pertanyaan yang sama
Apa bahagia?
Bahagia tak bersyarat, ucapnya dengan peluh menetes
Seorang ibu paruh baya
Dengan kedua tangannya yang menenteng belanjaan
Serta merta menjawab
Bahagia adalah bersyukur
Kutanyakan pula pada seorang anak jalan
Bahagia terus bermimpi, ucapnya sambil mengepalkan tangan
Seorang pejebat teras pun sempat ku tanya
Bahagia bila sejalan nuranimu, katanya sambil lalu
Bahkan seorang artis kondang di tengah syuting
Masih sempat menjawab
Bahagia bila berkumpul dengan keluarga
Saat perjalanan pulang
Ku renungkan macam-macam bahagia
Tak serta merta harta benda
lebih dari itu
Pribahasa berkata, rumput tetangga selalu hijau
Maka hijaukan hatimu
Bahagia bermula dari hati
Entah engkau kaya, miskin, sederhana
Anak pejabat, tukang becak atau biasa saja
Ara 041208
Mencoba mengitung nikmat kebahagiaan
Ternyata tak mampu ku hitung
Pertanyaan yang kuajukan pada ayah
Saat baru pulang kerja
Ia tersenyum dan menjawab
Sungguh… bahagia itu sederhana, Nak.
Esoknya,
Saat berpapasan dengan seorang bapak pemanggul kayu
Kutanyakan pertanyaan yang sama
Apa bahagia?
Bahagia tak bersyarat, ucapnya dengan peluh menetes
Seorang ibu paruh baya
Dengan kedua tangannya yang menenteng belanjaan
Serta merta menjawab
Bahagia adalah bersyukur
Kutanyakan pula pada seorang anak jalan
Bahagia terus bermimpi, ucapnya sambil mengepalkan tangan
Seorang pejebat teras pun sempat ku tanya
Bahagia bila sejalan nuranimu, katanya sambil lalu
Bahkan seorang artis kondang di tengah syuting
Masih sempat menjawab
Bahagia bila berkumpul dengan keluarga
Saat perjalanan pulang
Ku renungkan macam-macam bahagia
Tak serta merta harta benda
lebih dari itu
Pribahasa berkata, rumput tetangga selalu hijau
Maka hijaukan hatimu
Bahagia bermula dari hati
Entah engkau kaya, miskin, sederhana
Anak pejabat, tukang becak atau biasa saja
Ara 041208
Mencoba mengitung nikmat kebahagiaan
Ternyata tak mampu ku hitung
Selasa, 02 Desember 2008
UNTUKMU
Dalam bingkai terdalam
Ku simpan wajahmu yang penuh gelisah
Melepaskanku pergi
Pun saat berbilang
Pupus menyeret langkah
Izinkan aku melepas sepi
Dalam sepotong suaramu
Atau mencerna hidup
Dalam setitik sabarmu
Saat ini…
Walau tak benar-benar pulang
Aku ingin membagikan rindu
Di sepanjang jalan kepergian
Untukmu Ayah
Ara 031208
Kepada Ayah
Met milad di akhir tahun
Miss u
Ku simpan wajahmu yang penuh gelisah
Melepaskanku pergi
Pun saat berbilang
Pupus menyeret langkah
Izinkan aku melepas sepi
Dalam sepotong suaramu
Atau mencerna hidup
Dalam setitik sabarmu
Saat ini…
Walau tak benar-benar pulang
Aku ingin membagikan rindu
Di sepanjang jalan kepergian
Untukmu Ayah
Ara 031208
Kepada Ayah
Met milad di akhir tahun
Miss u
KASIHMU
Dukamu Tangisku
Sukamu Bahagiaku
Perihmu Meringisku
Cintamu Rinduku
Senyummu Tawaku
Marahmu Bersalahku
Khilafku Maafmu
Langkahku Larimu
Teriakku Diammu
Rukukku Sujudmu
Pelukku Ciummu
Lukaku Airmatamu
Sakitku Khawatirmu
Engganku Bujukmu
Hatiku Nyawamu
Panggilku
Ibu
Ara 191108
Kepada Ibunda, kasihku hanya sepanjang galah
kasihmu sepanjang jalan
Sukamu Bahagiaku
Perihmu Meringisku
Cintamu Rinduku
Senyummu Tawaku
Marahmu Bersalahku
Khilafku Maafmu
Langkahku Larimu
Teriakku Diammu
Rukukku Sujudmu
Pelukku Ciummu
Lukaku Airmatamu
Sakitku Khawatirmu
Engganku Bujukmu
Hatiku Nyawamu
Panggilku
Ibu
Ara 191108
Kepada Ibunda, kasihku hanya sepanjang galah
kasihmu sepanjang jalan
Selasa, 18 November 2008
AKU
AKU
Makhluk malang…
Ada! Ucapku
Tiada dan sendiri
Bayanganku tertawa sengit
Benarkah?
Engkau masih punya aku
Engkau selalu kuikuti, ucap sehatku
Lantas melirik pun engkau enggan
Lama aku tenggelam
Gelap mata buta hati
Ya … aku masih punya engkau nurani
Bahkan di saat sendiri aku masih punya Tuhan
TanpaMu aku tiada
Ucapkan syukur! seru bayanganku
Tak hanya itu, mana bukti penghambaanmu? Tanya sehat
“Aku menjagamu sehat
Dan aku mengikuti nurani”
Ucapku tersenyum
Ara 181108
Saat sakit menghampiri, ajarkan kami untuk terus bersyukur, Ya Rabbi.
Makhluk malang…
Ada! Ucapku
Tiada dan sendiri
Bayanganku tertawa sengit
Benarkah?
Engkau masih punya aku
Engkau selalu kuikuti, ucap sehatku
Lantas melirik pun engkau enggan
Lama aku tenggelam
Gelap mata buta hati
Ya … aku masih punya engkau nurani
Bahkan di saat sendiri aku masih punya Tuhan
TanpaMu aku tiada
Ucapkan syukur! seru bayanganku
Tak hanya itu, mana bukti penghambaanmu? Tanya sehat
“Aku menjagamu sehat
Dan aku mengikuti nurani”
Ucapku tersenyum
Ara 181108
Saat sakit menghampiri, ajarkan kami untuk terus bersyukur, Ya Rabbi.
TENTANG MENULIS
Bukan Puisi (OPINI)
Tentang Menulis
Dari dulu cita-citaku adalah menjadi penulis. Sebenarnya itu baru disadari saat SMU saat saya hobi baca novel. Tiga ribu tanda tangan novel pertama yang saya baca. Hadiah dari guruku. Sejak itu saya jadi keranjingan baca. Mulai dari novel, cerpen, kisah detektif puisi dan roman. Apapun saya baca. Sambil diam-diam mengagumi hasil tulisan para penulis favoritku. Helvi, Sir arthur conan doyle dll. Berharap suatu saat saya bisa menulis buku. Apapun itu. Novel, cerpen atau kumpulan puisi.
Tapi semua berjalan lambat saat saya sadari usia yang hampir 22 ini belum ada karya tercipta. Saya mulai mepertanyakan keinginan. Cita-cita tak akan berjalan tanpa suatu kerja nyata. Maka kucoba perlahan selembar. Menulis apapun. Tapi kembali lagi banyak kendala di dalamnya saat menulis. Ketakutan akan kekosongan. Keperfectkan. Maklum orang melankolis tipe perfect. Sambil membandingkan mengapa orang bisa menerbitkan tulisan yang begitu bagus. Wah. Best seller. Kembali niat itu menjadi ciut. Tapi saya kembali berpikir kenapa harus membandingkan karya kita dengan orang lain. Bandingkan saja dengan hasil karya della sebelumnya. Yang masih kosong lalu ada. Bukahkan itu ada kemajuan. Aku tersenyum saat mendengar diriku bermonolog. Filosofis banget.he3. maka aku mencoba menulis. Aku menulis tanpa sebelumnya memikirkan pendapat orang dahulu. Intinya aku hanya ingin menyuarakan hatiku. Persoalan penilaian setelah karya itu ada. Konsisten3.
Ara 181108
Saat berpikir tentang hasil
Tentang Menulis
Dari dulu cita-citaku adalah menjadi penulis. Sebenarnya itu baru disadari saat SMU saat saya hobi baca novel. Tiga ribu tanda tangan novel pertama yang saya baca. Hadiah dari guruku. Sejak itu saya jadi keranjingan baca. Mulai dari novel, cerpen, kisah detektif puisi dan roman. Apapun saya baca. Sambil diam-diam mengagumi hasil tulisan para penulis favoritku. Helvi, Sir arthur conan doyle dll. Berharap suatu saat saya bisa menulis buku. Apapun itu. Novel, cerpen atau kumpulan puisi.
Tapi semua berjalan lambat saat saya sadari usia yang hampir 22 ini belum ada karya tercipta. Saya mulai mepertanyakan keinginan. Cita-cita tak akan berjalan tanpa suatu kerja nyata. Maka kucoba perlahan selembar. Menulis apapun. Tapi kembali lagi banyak kendala di dalamnya saat menulis. Ketakutan akan kekosongan. Keperfectkan. Maklum orang melankolis tipe perfect. Sambil membandingkan mengapa orang bisa menerbitkan tulisan yang begitu bagus. Wah. Best seller. Kembali niat itu menjadi ciut. Tapi saya kembali berpikir kenapa harus membandingkan karya kita dengan orang lain. Bandingkan saja dengan hasil karya della sebelumnya. Yang masih kosong lalu ada. Bukahkan itu ada kemajuan. Aku tersenyum saat mendengar diriku bermonolog. Filosofis banget.he3. maka aku mencoba menulis. Aku menulis tanpa sebelumnya memikirkan pendapat orang dahulu. Intinya aku hanya ingin menyuarakan hatiku. Persoalan penilaian setelah karya itu ada. Konsisten3.
Ara 181108
Saat berpikir tentang hasil
Kamis, 13 November 2008
DARI SERPONG HINGGA TANAH ABANG
BUKAN PUISI (CERPEN)
Dari Serpong hingga Tanah Abang
Sudah sejak tadi ia mengamati kereta ini. Dingin berAC. Tempat duduknya yang hijau terlihat empuk. Sementara ia kehausan. Make upnya tersapu keringat. Wajar, sedari tadi ia menunggu. Ia berlagak mengacuhkan si express. Namun pikirannya terus mengembara. Sungguh asyik nian naik ini. Tapi akal rasionya kembali menyadarkannya. Sebab express berarti siap menanggung konsekuensi 10 kali lipat. Jauh dibanding dengan harga tiketnya yang hanya cenggo. Sekalipun ia tak pernah membeli tiket, ia tetap tahu kerugian yang akan ditanggung dirinya dan temannya jika naik express. Sebab mereka punya rutinitas bukan rekreasi.
Detik berlalu, ok berganti menit, hampir satu jam. Mana keretaku, Si hitam manis? Aduh lihatlah si AC semakin menggoda saja. Ia bersiul-siul memanggil. Pertanda ia siap melangkah dengan anggun dan angkuh.
Tut…tut…Jess..Jess. akhirnya keretaku datang, terseok-seok. Seolah kehabisan napas. Ia tampak memperihatinkan. Sisiknya mulai terkelupas dibandingkan si AC yang bersisik putih mengkilap. Tapi lihatlah aku tetap menunggumu, Sayang. Engkau tetap dinantikan. Entah itu oleh penumpang atau hanya pedagang asongan. Dikelilingi. Diserbu. Sedikit anarkis. Ada yang terjepit, terdorong atau tersenggol. Jatuh ada juga. Adu mulut sampai adu sikut. Peristiwa yang kerap sama menyambut kedatangan KRL (Kereta Listrik) Ekonomi hingga si hitam pun kembali melaju. Meninggalkan Serpong sampai Tanah Abang.
Gerbong 1
Akhirnya sampai juga di dalam. Sedikit hipoksia tak apa. Agak dehidrasi gampang. Tinggal rayu Bang Ujang. Minta segelas aqua asalkan dia sedang berbaik hati. Tapi biasanya jarang dikasih sebab baginya bisnis is bisnis. Seperti hari ini, “Abang bakal rugi kalo gini terus, Neng! Udah gopek aja. Gak ambil untung kok.”
Terpaksa aku merongoh selogam uang melati. Pelit! Mau gimana lagi, aku harus nyanyi. Masa belum nyanyi sudah haus. Huh!
“Cepetan, Don minumnya. Trus benerin dulu tuh lipstikmu. Luntur.” Kata Nike, sang gitaris sekaligus pemimpin grup ngamen kami.
“Sekun…sekun…sekuntum mawar merah yang kau berikan kepadaku di malam itu ku mengerti apa maksudmu…” suara sumbang Dona menggema di seluruh penjuru kereta.
Di Gerbong 2, lima belas menit kemudian
“Bu, anaknya geulis-geulis.” Ibu itu tersenyum bangga seolah berkata siapa dulu ibunya. “Sayang atuh kalo jerawatan. Lihat tuh matang-matang. Abang punya alat pelintir jerawat nih. Murah kok hanya dua ribu perak.” Promosi pedagang asongan.
“Kirain mau merayu ternyata mau dagang.” Sindir si anak.
Tak jauh dari kursi tersebut lelaki mirip Pak Raden merokok dengan santainya, sementara disebelahnya wanita berblazer rapih menutup hidungnya sambil terbatuk-batuk. Huh, katanya sejak berlaku UU baru merokok didenda. Mana?
Gerbang 3 saat kereta singgah di stsiun pertama
Suasana individualis terasa sekali. Sekelompok remaja tanggung. Entah celana biru atau abu-abu. Asyik duduk , tak ada yang mau beranjak. Walau disampingnya seorang nenek renta dan ibu hamil tua berdiri.
Di atas gerbong, suasana lebih bersahabat. “Acong, geser dikit tuh, Bapak mau duduk di sini” kata Abe. “Silakan, Pak” Untuk seorang bapak paruh baya yang tetap nekat mengikuti rutinitas kawula muda, Acong berbaik hati bergeser. “Hati-hati jatuh,Pak. Anginnya kencang!” tambahnya lagi.
Gerbong 4, menjelang stasiun Pondok Ranji
Seorang bapak yang tertidur pulas tak menyadari tangan jahil seorang pemuda yang mengambil dompetnya. “Lumayan untuk makan siang” ujar pemuda itu dalam hati sambil bergegas turun di stasiun Pondok Ranji.
Dari gerbong ke gerbong
Pak Slamet begitu namanya. Telah sepuluh tahun berjalan dari gerbong ke gerbong dengan seragam biru yang sama. Karcis-karcis begitu katanya. Ia begitu baik. Penumpang yang tak membeli karcis tetap boleh naik kereta. Sang penumpang pun hanya menyelipkan seribu rupiah di tangannya.
Bang Rodi lain lagi. Saat pagi ia bolak-balik menjualkan jeruknya 10 buah lima ribu. Siang hari jeruknya bisa ia jual 15 buah, lima ribu. Menjelang sore lain lagi. Jumlah jeruk bisa bertambah dari 20 hingga 30 dengan harga yang sama.
Dari Stasiun ke Stasiun
Penumpang tetap saja memaksakan naik. Tak peduli walaupun harus berdiri. Berdempetan. Grup ngamen Dona semakin bersemangat. Tabuhan gendangnya makin keras. Gitarnya juga. Dona pun harus meninggikan frekuensi nada. Pitch control salah. Ah bodo amat. Siapa peduli. Mereka hanya peduli receh-receh yang mengalir deras ke dalam kantong-kantong mereka. Namun Dona pun tahu semakin banyak orang berarti semakin tak dapat menghindari lagi tangan-tangan jahil yang lain. “Hei jangan kurang ajar ya!”bentaknya tiap kali dan tiap hari.
Stasiun Terakhir, Tanah Abang
Para penumpang saling sikut kembali untuk turun lebih cepat. Gerbong kembali kosong namun sekejap ritual penyembutan terjadi lagi. Gerbong kembali peuh. Si hitam yang kembali melaju menuju stasiun awal. Ibarat tombol reset para pengamen kereta kembali bernyanyi. Dengan gincu menyala, bedak tebal, wig pirang, baju aduhai, Dona kembali lagi menjajakan suaranya ke setiap gerbong. Ia tidak tampak kelelahan. Terbayang dibenaknya kiriman wesel dan sepucuk surat untuk orang tua dan kelima adiknya. “Bapak, Ibu, jangan khawatirkan anakmu ini. Doni telah mendapat pekerjaan di Jakarta.”
Ia tersenyum. Satu yang tak terbayang olehnya mengatakan bahwa nama Doni tergantikan menjadi Dona. Biarlah sebab orang tuanya mana tahu kerasnya hidup di sini, katanya.
“Sekun…sekun…sekuntum mawar merah yang kau berikan kepadaku di malam itu ku mengerti apa maksudmu…”sayup-sayup suara sumbang Doni eh Dona kembali menggema di seluruh penjuru kereta.
Ara 060606
“Saat mengamati sekeliling kereta”
Dari Serpong hingga Tanah Abang
Sudah sejak tadi ia mengamati kereta ini. Dingin berAC. Tempat duduknya yang hijau terlihat empuk. Sementara ia kehausan. Make upnya tersapu keringat. Wajar, sedari tadi ia menunggu. Ia berlagak mengacuhkan si express. Namun pikirannya terus mengembara. Sungguh asyik nian naik ini. Tapi akal rasionya kembali menyadarkannya. Sebab express berarti siap menanggung konsekuensi 10 kali lipat. Jauh dibanding dengan harga tiketnya yang hanya cenggo. Sekalipun ia tak pernah membeli tiket, ia tetap tahu kerugian yang akan ditanggung dirinya dan temannya jika naik express. Sebab mereka punya rutinitas bukan rekreasi.
Detik berlalu, ok berganti menit, hampir satu jam. Mana keretaku, Si hitam manis? Aduh lihatlah si AC semakin menggoda saja. Ia bersiul-siul memanggil. Pertanda ia siap melangkah dengan anggun dan angkuh.
Tut…tut…Jess..Jess. akhirnya keretaku datang, terseok-seok. Seolah kehabisan napas. Ia tampak memperihatinkan. Sisiknya mulai terkelupas dibandingkan si AC yang bersisik putih mengkilap. Tapi lihatlah aku tetap menunggumu, Sayang. Engkau tetap dinantikan. Entah itu oleh penumpang atau hanya pedagang asongan. Dikelilingi. Diserbu. Sedikit anarkis. Ada yang terjepit, terdorong atau tersenggol. Jatuh ada juga. Adu mulut sampai adu sikut. Peristiwa yang kerap sama menyambut kedatangan KRL (Kereta Listrik) Ekonomi hingga si hitam pun kembali melaju. Meninggalkan Serpong sampai Tanah Abang.
Gerbong 1
Akhirnya sampai juga di dalam. Sedikit hipoksia tak apa. Agak dehidrasi gampang. Tinggal rayu Bang Ujang. Minta segelas aqua asalkan dia sedang berbaik hati. Tapi biasanya jarang dikasih sebab baginya bisnis is bisnis. Seperti hari ini, “Abang bakal rugi kalo gini terus, Neng! Udah gopek aja. Gak ambil untung kok.”
Terpaksa aku merongoh selogam uang melati. Pelit! Mau gimana lagi, aku harus nyanyi. Masa belum nyanyi sudah haus. Huh!
“Cepetan, Don minumnya. Trus benerin dulu tuh lipstikmu. Luntur.” Kata Nike, sang gitaris sekaligus pemimpin grup ngamen kami.
“Sekun…sekun…sekuntum mawar merah yang kau berikan kepadaku di malam itu ku mengerti apa maksudmu…” suara sumbang Dona menggema di seluruh penjuru kereta.
Di Gerbong 2, lima belas menit kemudian
“Bu, anaknya geulis-geulis.” Ibu itu tersenyum bangga seolah berkata siapa dulu ibunya. “Sayang atuh kalo jerawatan. Lihat tuh matang-matang. Abang punya alat pelintir jerawat nih. Murah kok hanya dua ribu perak.” Promosi pedagang asongan.
“Kirain mau merayu ternyata mau dagang.” Sindir si anak.
Tak jauh dari kursi tersebut lelaki mirip Pak Raden merokok dengan santainya, sementara disebelahnya wanita berblazer rapih menutup hidungnya sambil terbatuk-batuk. Huh, katanya sejak berlaku UU baru merokok didenda. Mana?
Gerbang 3 saat kereta singgah di stsiun pertama
Suasana individualis terasa sekali. Sekelompok remaja tanggung. Entah celana biru atau abu-abu. Asyik duduk , tak ada yang mau beranjak. Walau disampingnya seorang nenek renta dan ibu hamil tua berdiri.
Di atas gerbong, suasana lebih bersahabat. “Acong, geser dikit tuh, Bapak mau duduk di sini” kata Abe. “Silakan, Pak” Untuk seorang bapak paruh baya yang tetap nekat mengikuti rutinitas kawula muda, Acong berbaik hati bergeser. “Hati-hati jatuh,Pak. Anginnya kencang!” tambahnya lagi.
Gerbong 4, menjelang stasiun Pondok Ranji
Seorang bapak yang tertidur pulas tak menyadari tangan jahil seorang pemuda yang mengambil dompetnya. “Lumayan untuk makan siang” ujar pemuda itu dalam hati sambil bergegas turun di stasiun Pondok Ranji.
Dari gerbong ke gerbong
Pak Slamet begitu namanya. Telah sepuluh tahun berjalan dari gerbong ke gerbong dengan seragam biru yang sama. Karcis-karcis begitu katanya. Ia begitu baik. Penumpang yang tak membeli karcis tetap boleh naik kereta. Sang penumpang pun hanya menyelipkan seribu rupiah di tangannya.
Bang Rodi lain lagi. Saat pagi ia bolak-balik menjualkan jeruknya 10 buah lima ribu. Siang hari jeruknya bisa ia jual 15 buah, lima ribu. Menjelang sore lain lagi. Jumlah jeruk bisa bertambah dari 20 hingga 30 dengan harga yang sama.
Dari Stasiun ke Stasiun
Penumpang tetap saja memaksakan naik. Tak peduli walaupun harus berdiri. Berdempetan. Grup ngamen Dona semakin bersemangat. Tabuhan gendangnya makin keras. Gitarnya juga. Dona pun harus meninggikan frekuensi nada. Pitch control salah. Ah bodo amat. Siapa peduli. Mereka hanya peduli receh-receh yang mengalir deras ke dalam kantong-kantong mereka. Namun Dona pun tahu semakin banyak orang berarti semakin tak dapat menghindari lagi tangan-tangan jahil yang lain. “Hei jangan kurang ajar ya!”bentaknya tiap kali dan tiap hari.
Stasiun Terakhir, Tanah Abang
Para penumpang saling sikut kembali untuk turun lebih cepat. Gerbong kembali kosong namun sekejap ritual penyembutan terjadi lagi. Gerbong kembali peuh. Si hitam yang kembali melaju menuju stasiun awal. Ibarat tombol reset para pengamen kereta kembali bernyanyi. Dengan gincu menyala, bedak tebal, wig pirang, baju aduhai, Dona kembali lagi menjajakan suaranya ke setiap gerbong. Ia tidak tampak kelelahan. Terbayang dibenaknya kiriman wesel dan sepucuk surat untuk orang tua dan kelima adiknya. “Bapak, Ibu, jangan khawatirkan anakmu ini. Doni telah mendapat pekerjaan di Jakarta.”
Ia tersenyum. Satu yang tak terbayang olehnya mengatakan bahwa nama Doni tergantikan menjadi Dona. Biarlah sebab orang tuanya mana tahu kerasnya hidup di sini, katanya.
“Sekun…sekun…sekuntum mawar merah yang kau berikan kepadaku di malam itu ku mengerti apa maksudmu…”sayup-sayup suara sumbang Doni eh Dona kembali menggema di seluruh penjuru kereta.
Ara 060606
“Saat mengamati sekeliling kereta”
Senin, 27 Oktober 2008
CERMIN JIWA
Aku bunglon
Sembunyi dalam samar
Mimikri membelah asa
Bertopang resah
Kulit sisik, jiwa tersayat
Luka ringan, lecet
Namun hati berkeping sudah
Sendiri dalam hening
Galau
Inikah aku?
Bertopeng wujud sempurna
Ditonggak norma, patuh
Nayatanya ingkar, munafik
Hina
Ara 240902
Jangan jual nuranimu!
Sembunyi dalam samar
Mimikri membelah asa
Bertopang resah
Kulit sisik, jiwa tersayat
Luka ringan, lecet
Namun hati berkeping sudah
Sendiri dalam hening
Galau
Inikah aku?
Bertopeng wujud sempurna
Ditonggak norma, patuh
Nayatanya ingkar, munafik
Hina
Ara 240902
Jangan jual nuranimu!
KENANGAN
Menerawang balik ke belasan
Berputar singkirkan awan
Menerobos segan
Tatap bangunan
Penuh kenangan
Kala sendiri berjalan
Hati tercekam bosan
Hingga muncul senyuman
Senyum ketulusan
Di mana pancaran cinta terlukiskan
Rasa kasih sayang tersemaikan
Melalui benang-benang pertemanan
Dan waktu mengukir kenangan
Dalam suatu bangunan
Di mana tangan
Ulurkan persahabatan
Ara 090303
Kado ulang tahun tuk Sahabat masa SMA
Berputar singkirkan awan
Menerobos segan
Tatap bangunan
Penuh kenangan
Kala sendiri berjalan
Hati tercekam bosan
Hingga muncul senyuman
Senyum ketulusan
Di mana pancaran cinta terlukiskan
Rasa kasih sayang tersemaikan
Melalui benang-benang pertemanan
Dan waktu mengukir kenangan
Dalam suatu bangunan
Di mana tangan
Ulurkan persahabatan
Ara 090303
Kado ulang tahun tuk Sahabat masa SMA
SIMFONI III
Ayat-ayat panjang
Membentang
Merekam tabir simfoni
Gelap…Siang
Bintang..Bulan
Dalam sujud
Ara 220308
Akhir segalanya kembali kepadaMu
Membentang
Merekam tabir simfoni
Gelap…Siang
Bintang..Bulan
Dalam sujud
Ara 220308
Akhir segalanya kembali kepadaMu
SIMFONI II
Tumbuk tanah
Merah mengepul
Pandang
Kelilip mata
Tumbuk tanah
Getar berasap
Dengar
Serbuk menderu
Ara 220803
Ada aksi ada reaksi
Merah mengepul
Pandang
Kelilip mata
Tumbuk tanah
Getar berasap
Dengar
Serbuk menderu
Ara 220803
Ada aksi ada reaksi
SIMFONI I
Berjalan turun
Menyisir pucuk daun
Hantam karang
Surut gelombang
Pasang bernyanyi
Siri bergetar
Senar
Ara 220803
Lagu kehidupan
Menyisir pucuk daun
Hantam karang
Surut gelombang
Pasang bernyanyi
Siri bergetar
Senar
Ara 220803
Lagu kehidupan
SAHABAT
Sembilan tahun waktu yang panjang
Untuk saling merajut menyimpul hati
Entah mesti ku berkata apa
Pada kebersamaan ini
Persahabatan. Ya…
Hingga jarak memisah
Mencipta skenario beda
Teman-teman baru
Kesibukan-kesibukan
Menyergap hampir seluruh waktu
Kebersamaan yang kita bangun
Terkunci dalam memeori
Tapi,
Ada saat memori lepas
Berlompatan
Menghambur kenangan
Mengisi kekosongan hatiku
Entah mesti ku berkata apa
Pada engkau, sahabat
Ladang jiwa
Ara 010703
Sahabat yang tetap di hati
Untuk saling merajut menyimpul hati
Entah mesti ku berkata apa
Pada kebersamaan ini
Persahabatan. Ya…
Hingga jarak memisah
Mencipta skenario beda
Teman-teman baru
Kesibukan-kesibukan
Menyergap hampir seluruh waktu
Kebersamaan yang kita bangun
Terkunci dalam memeori
Tapi,
Ada saat memori lepas
Berlompatan
Menghambur kenangan
Mengisi kekosongan hatiku
Entah mesti ku berkata apa
Pada engkau, sahabat
Ladang jiwa
Ara 010703
Sahabat yang tetap di hati
Langganan:
Postingan (Atom)
